Senin, 08 Mei 2017

Raja dan Pedang (Bagian 3)

Tak dikira buah jatuh dari pohonnya
Sang raja kemudian memakannya
Tanpa sadar dia mengambil yang bukan miliknya
Apa daya ini bukan kerajaannya
Dia harus meminta izin pemiliknya
Siapa pemilik kebunnya

Sang raja menemukan sebuah desa
Yang saat gelap dikepung srigala
Menunggu di depan pintu dan celah rumah yang terbuka
Kelaparan mencari mangsa
Putus asa menunggu makanan yang tak ada
Siapakah yang salah
Manusia atau serigala

Saat fajar menyapa
Serigala lari ke arah pegunungan
Entah apa gerangan yang ditakutkan
Tetapi itulah yang terjadi selama bertahun-tahun
Kata orang tua yang hendak menuju perkebunan

Sang raja menanyakan siapa gerangan pemilik buah yang telah dimakan
Yang pohonnya dalam kebun yang rindang
Yang tanahnya subur dan ditumbuhi rerumputan
Yang udaranya sejuk dan menyegarkan

Orang tua menjawab sesungguhnya ia adalah saudaraku
Akan tetapi telah ia wariskan kepada anaknya yang hanya satu
Dia tinggal dengan seorang pembantu
Setiap hari dia menyapu dan menutup pintu
Terkadang dia menyiapkan makan untukku dan keluargaku
Dan memberikan perlindungan di saat srigala datang memburu
Di dalam rumahnya yang besar dan tangguh 
karena terlapisi dengan baja dan batu

Tibalah sang raja di depan sebuah taman
Taman luas dihidupi bunga-bunga dan dedaunan
Sebagian lagi tergores dan terkoyak akibat serbuan pemburu
Diujung taman kulihat sebuah bangunan
Besar dan kokoh tak lekang oleh zaman
Dua perempuan terlihat sedang merapikan halaman
Yang satu bergegas masuk menutup pintu
Yang satu datang menghampiri sambil terburu
Apa salahku

Ternyata dia adalah sang pembantu
Yang mendekat mengancam dengan belanggu
Siapakah engkau hai pria lancang kata sang pembantu
Sarungkan pedang dan pandanganmu

Tahulah  aku bahwa perempuan yang menutup pintu
Adalah pemilik kebun yang di situ
Sedang perempuan yang mengancam dengan belanggu adalah
Pengawal dan pembantu sang perempuan pemalu


Tidak ada komentar:

Posting Komentar