Kamis, 11 Mei 2017

Musuh,Teman dan "Hajatan"

Menghadapi musuh terbesarku
Saling menatap dengan tajam dan memaku
Ketakutan menyerangku
Karena badik ditanganku
Badik yang kosong dalam sarunganku
Hanya gagang dan besi yang ditumpulkan
Aku tak bisa memulai serangan
Karena begitu kulakukan  semuanya akan ketahuan
Taktik akan dipatahkan

Tanganku bergetar tak karuan
Menunggu gerakan sambil membayangkan
Tapi diapun tak melakukan tindakan
Kami saling memprediksi keadaan
Diapun terlihat menunggu dengan wajah kekhawatiran

Semakin lama aku serasa diburu
Jantungku terus memacu
Ini bisa merenggut nyawaku
Tanpa bertarung terlebih dahulu

Tiba-tiba dia berlutut dan menunduk
Dia menyerah dan siap dihukum
Ternyata pedangnya juga besi yang tumpul
Aku menang dengan sedetik waktu
Hampir saja aku memaku tanpa palu
Aku menang dengan besi yang tumpul
Karena senjata terkuat adalah senjata yang tak orang tahu
Perempuan terbaik adalah perempuan yang tak pernah tersentuh
Lelaki terbaik adalah yang punya kehormatan dan rasa malu

Aku menghunus badik di pinggul
Dia melihat dengan terkejut
Kami sama-sama ingin menusuk dengan benda tumpul
Saling membaca keadaan ,saling merasa perasaan kami menjadi teman tanpa ikatan
Tertawa saling merendahkan
Berjabat saling memberi penghormatan
Aku menang


Di sisi seberang

Menghadapi musuh terbesarku
Saling menatap dengan tajam dan memaku
Ketakutan menyerangku
Karena badik ditanganku
Badik yang kosong dalam sarunganku
Hanya gagang dan besi yang ditumpulkan
Aku tak bisa memulai serangan
Karena begitu kulakukan  semuanya akan ketahuan

Tanganku bergetar tak karuan
Menunggu gerakan sambil membayangkan
Tapi diapun tak melakukan tindakan
Diapun terlihat menunggu dengan wajah ketakutan

Semakin lama aku serasa diburu
Jantungku terus memacu
Ini bisa merenggut nyawaku
Tanpa bertarung terlebih dahulu

Aku merasa panas dan kedinginan
Keringatku bercucuran
Perutku mulas dan ingin kebelakang
Apa yang harus kulakukan
Aku harus menahan sampai dia menyerah dalam pertarungan
Sampai dia melakukan serangan
Dengan sekali tendang dia akan kukalahkan

Cepatlah  menyerang
cepatlah menyerang
Ada yang harus kukeluarkan
Aku sudah hampir tak tahan
Aku harus pergi kebelakang
Cepatlah menyerang
Aku sudah tak tahan
Telah berlalu beberapa waktu dan keadaan
Dia belum melakukan pergerakan

Apa boleh buat
Aku dituntut pesta hajatan
Hari H telah datang

Aku segera berlutut dan menyerahkan kemenangan
Apa boleh buat aku dilanda kegentingan
Dia menghunus badik yang tumpul
Aku telah tertipu
Kami tertawa saling menghinakan
Kami berteman tanpa ikatan
Kami menjabat dengan kehormatan

Aku memberinya isyarat dan segera mengambil langkah bayangan
Dengan kaki yang sedikit dilebarkan
Dan paha yang sudah dijepitkan
Aku kebalik pepohonan
Dan memulai pesta hajatan
Aku merasakan kemenangan
Rasanya memuaskan
Ini lebih dari kemenangan
Aku menang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar