Sabtu, 29 April 2017

Raja dan Pedang

Aku telah meremehkan cinta
Hingga ia membalaskan dendamnya
Perisaiku diruntuhkan
Pedangku ia patahkan
Sirahku dihancurkan
Istanaku diporak porandakan

Mengambil alih tahta dalam kerajaan
Wazir dan tabib telah ditundukkan
Panglima dan menteri beralih haluan
Aku dibuang ditinggal sendirian
Di tengah hutan kesengsaraan

Mencari tempat untuk pulang
Tapi aku dikepung kesesatan
Kulihat istana dikejauhan
Tapi itu hanya fatamorgana terik siang
Panas nian menembus fikiran

Hutan tak mampu membendung lagi
Panas bola api dari langit
Hutan kehabisan air dan nutrisi
Daun-daun kekeringan
Batu berjatuhan hingga terjadi percikan
Hutan kebakaran

Aku terjerembab dalam sebuah lubang
di tengah hutan diantara kepungan kesengsaraan
Aku kepanasan berharap air hujan
Turun dari awan yang tengah menghitam

Hujan jatuh membasahi hutan menjadi arang
Panasnya berubah menjadi kehangatan di tengah malam
Fajar menyapa, terlihatlah istana yang merana
Ditinggal raja tertidur ditengah hutan

Sang raja kegirangan lalu kehilangan pegangan
Sang raja terjatuh kedalam jurang yang dalam
Hingga tiba di tepian dia menemukan
Sebuah pedang yang tak dirindukan

Pedangnya menyatu dengan gundukan
Gundukan cadas tanpa kelenturan
Harus tercabut dengan kekuatan
Namun sang raja kekurangan tenaga tanpa ada makanan

Dia memaksakan dan mematahkan lengan
Lengan domba liar yang telah dipanggang
Telah ia santap hidangan dihadapan
Tangannya memegang gagang sang pedang

Gagangnya lembut tak bertuan
Bentuknya berkelok memanjang
Sangat pas di genggaman
Ini bukan pedang sembarang
Pedang yang dibuat dengan kesungguhan
Tak tergores dimakan zaman
Tak berkarat disapu angin
Tak meleleh di serbu api
Tak hilang di timbun tanah
Ini pedang nenek moyang
Ditinggal tanpa tuan
Hanya tercabut jika benar dibutuhkan

Dan sekali lagi
Pedang akan digunakan
Oleh orang yang menemukan
Seorang raja yang bangun kesiangan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar